perbedaan ilmu dan pendidikan
BedaPendidikan dan Ilmu Pendidikan Pengertian pendidikan ( UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003 ) adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia
HakHak Guru. Dalam Undang-Undang Guru dan Dosen pasal 14 ayat 1 menyatakan, bahwa dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru memiliki hak sebagai berikut: Memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial. Mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja.
Perbedaanilmu dan pengetahuan yang paling menonjol adalah dalam metode pembuktian. Ilmu bersifat objektif sedangkan pengetahuan bersifat subjektif. Ilmu membutuhkan syarat ilmiah agar bisa disebut dan menjadi suatu ilmu dan salah satunya adalah harus objektif. Objek kajian dari ilmu harus dicari kebenaran dan dibuktikan secara objektif.
SarjanaIlmu Ekonomi lebih mengutamakan ke pendidikan ekonomi. Sedangkan Gelar Sarjana Ekonomi merupakan suatu gelar yang ada di perguruan tinggi yang dimana gelar tersebut diterima seorang mahasiswa setelah menyelesaikan pendidikan dalam bidang ekonomi keuangan. Perbedaan S1 Ekonomi Dan S1 Manajemen?
PengertianIlmu Sosial - Belajar merupakan hak dan kewajiban setiap manusia, tidak mengenal usia baik itu anak-anak, remaja, dan orang tua, semuanya memiliki kesempatan yang sama. Negara bahkan menjamin setiap individu untuk dapat belajar atau memperoleh pendidikan sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1 dimana negara menjamin setiap warga negara berhak atas pendidikan.
Site De Rencontre Gratuit Pour Mobile. Pengetahuan dan pendidikan tidak memiliki banyak perbedaan di antara keduanya karena keduanya saling berkorelasi. Jika kita mengikuti fakta, pengetahuan adalah pengalaman informal, sedangkan pendidikan adalah proses harus diperoleh dengan usaha KunciPengetahuan adalah pemahaman dan kesadaran akan fakta, informasi, konsep, atau keterampilan yang diperoleh melalui pengalaman, studi, atau adalah suatu proses di mana individu memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap melalui instruksi, pelatihan, atau studi, seringkali dalam pengaturan terstruktur seperti sekolah atau pengetahuan dan pendidikan terkait dengan pembelajaran dan pengembangan pribadi. Namun, pengetahuan mengacu pada akumulasi pemahaman dan kesadaran akan informasi, sedangkan pendidikan adalah proses di mana pengetahuan diperoleh dan adalah mendapatkan informasi melalui belajar dan praktek. Proses memperoleh pengetahuan tidak terbatas. Seseorang selalu dapat belajar dari pengalaman hidupnya. Tidak ada aturan dalam pengetahuan. Pendidikan adalah proses pengembangan keterampilan melalui pembelajaran di lembaga formal. Pendidikan dapat diperoleh dari lembaga tertentu untuk waktu tertentu. Aturan didefinisikan dalam menyimpan artikel ini untuk nanti? Klik hati di pojok kanan bawah untuk menyimpan ke kotak artikel Anda sendiri!Pengetahuan diperoleh dari pendidikan yang baik, rekan-rekan, bacaan ekstensif, konsultasi, dan pengalaman hidup. Pendidikan dapat digambarkan sebagai proses memperoleh pengetahuan untuk penerapan praktisnya di kemudian seseorang mendapat pendidikan ketika guru mengajarkannya kepada siswa sisi lain, pengetahuan diperoleh sendiri; dengan kata lain, itu adalah self-driven. Melalui proses belajar dan memperoleh pendidikan, seseorang dapat mengetahui banyak fakta, teori, dan orang itu menerapkan fakta dan teori yang dipelajarinya dalam situasi kehidupan nyata, aplikasi ini adalah perbandinganParameter PerbandinganpengetahuanPendidikanDefinisiPengetahuan adalah memperoleh fakta, informasi, dan keterampilan melalui pengalaman atau adalah suatu proses belajar secara sistematis dari suatu lembaga formal seperti sekolah, perguruan tinggi, atau untuk mendapatkanPengetahuan tidak memiliki batas karena dipelajari dari pengalaman dan situasi kehidupan hanya dapat diperoleh dari lembaga formal seperti sekolah, perguruan tinggi, atau ada instruksi, aturan, atau batasan untuk memperoleh aturan, peraturan, dan kurikulum yang ditetapkan untuk memperoleh bebas diperoleh dari lingkungan dan pengalaman harus dipelajari dari buku dan guru di lembaga tidak memiliki batasan usia atau tingkat pertumbuhan. Itu semata-mata didasarkan pada pemahaman seseorang tentang tumbuh seiring bertambahnya usia karena seseorang dapat belajar lebih banyak dengan mengikuti itu Pengetahuan?Pengetahuan adalah memperoleh fakta, informasi, dan keterampilan melalui pengalaman atau pembelajaran. Ini adalah pengalaman diperoleh dengan usaha dan pengalaman sendiri; dengan kata lain, itu adalah self-driven. Itu diperoleh dari pendidikan yang baik, teman sebaya, banyak membaca, konsultasi, dan pengalaman seorang terpelajar menerapkan apa yang telah dia pelajari dalam situasi kehidupan nyata, itu adalah pengetahuan. Tidak ada pengetahuan yang tidak bisa dialami; apa yang dialami dan dipahami seseorang membuat seseorang lebih tentang memahami fakta tertentu, menganalisis informasi mentah, dan mengembangkan keterampilan yang tidak memiliki batasan usia atau tingkat pertumbuhan. Itu semata-mata didasarkan pada pemahaman seseorang tentang seorang anak juga bisa lebih berpengetahuan daripada orang dewasa. Pengetahuan tidak membutuhkan sistem atau institusi apa pun; itu bebas untuk diperoleh oleh siapa saja yang ingin itu Pendidikan?Pendidikan adalah suatu proses belajar secara sistematis dari suatu lembaga formal seperti sekolah, perguruan tinggi, atau universitas. Ini adalah proses aturan, peraturan, dan kurikulum yang ditetapkan untuk memperoleh pendidikan. Ini membantu individu untuk menyadari bakat dan kelemahannya dan untuk meningkatkan potensi pendidikan dapat digambarkan sebagai memperoleh pengetahuan untuk penerapannya yang bermanfaat di kemudian hari. Itu adalah sesuatu yang didapat seseorang ketika guru mengajarkannya kepada tumbuh seiring bertambahnya usia karena seseorang dapat belajar lebih banyak dengan mengikuti banyak kursus atau membaca dan mempelajari seseorang berkeinginan untuk belajar, maka pendidikannya terus berkembang. Beberapa pendidikan adalah jenis yang tidak pernah dapat dialami dan hanya dapat diperoleh dari sebuah lebih spesifik dan terdefinisi daripada pengetahuan. Ini adalah sistem dengan pembelajaran yang terkait dengan kelompok usia dan orang Utama Antara Pengetahuan dan PendidikanTidak ada instruksi, aturan, atau batasan untuk memperoleh pengetahuan, sementara dalam hal pendidikan, ada seperangkat aturan, peraturan, dan kurikulum yang ditetapkan untuk tidak memiliki batas karena dipelajari dari pengalaman dan situasi kehidupan nyata, sedangkan pendidikan hanya dapat diperoleh dari lembaga formal seperti sekolah, perguruan tinggi, atau tidak memiliki batasan usia atau tingkat pertumbuhan. Itu semata-mata didasarkan pada pemahaman seseorang tentang hidupnya. Di sisi lain, pendidikan tumbuh seiring bertambahnya usia karena seseorang dapat belajar lebih banyak dengan mengikuti kursus dan meningkatkan pengetahuannya tentang suatu mata bebas diperoleh dari lingkungan dan pengalaman hidup, sedangkan pendidikan diperoleh dari buku dan guru di lembaga Smith memegang gelar MA dalam bahasa Inggris dari Irvine Valley College. Dia telah menjadi Jurnalis sejak tahun 2002, menulis artikel tentang bahasa Inggris, Olahraga, dan Hukum. Baca lebih lanjut tentang saya tentang dia halaman bio.
Pemahaman terhadap konsep pendidikan setidaknya berorientasi pada dua aktifitas utama yaitu pendidikan sebagai tindakan manusia sebagai usaha membimbing manusia yang lain educational practice, dengan pendidikan sebagai ilmu pendidikan educational thought. Pendidikan sebagai suatu tindakan sudah berlangsung lama sebelum orang berfikir tentang bagaimana mendidik. Bahkan dapat dikatakan pendidikan dalam artian ini sudah ada sejak leberadaan manusia di dunia ini, sedangkan pendidikan sebagai ilmu baru lahir kira-kira pada abad 19. Dua pengertian tersebut oleh prof. Gununing dibedakan dengan dua persitilahan, yaitu Paedagogie untuk pendidikan dalam artian praktik dan Paedagogiek untuk ilmu pendidikan atau yang berhubungan dengan teori pendidikan yang mengutamakan perenungan atau pemikiran ilmiah Siwarno 1982. Dari kenyataan tersebut di atas E. H Wilds menggambarkan Education is as old as life itself; … Education, concious or unconcious, organizes or unorgasized, has always existed, playing an in area singly role in the drama of human progress………………………………Education took palse long before anyone thought abaout it; there writing about education long before was problem of education. Dalam kenyataan manusia menunjukkan bahwa pendidikan dalam artian pembimbingan sudah berlangsung sejak zaman primitif. Kegiatan pendidikan terjadi dalam hubungan orang tua dengan anak. Orang tua mengajak anak laki-laki pergi kebudayaan ladang, berburu agar anak memiliki ketrampilan berladang dan berburu. Seorang ibu membimbing anak untuk bekerja di lingkungan keluarga, agar anaknya memiliki kemampuan dalam mengurus kehidupan rumah tangga. Masih banyak lagi kegiatan-kegiatan yang lain yang merupakan aktifitas pendidikan berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Dari tinjauan sejarah pendidikan kelahiran ilmu pendidikan diawali dengan lahirnya tokoh-tokoh pemikir dalam bidang pendidikan. Pada abad 18 lahirlah tokoh-tokoh seperti J. A Comeniu, John Locke, Jean Jaques Rousseau, Immanuelkant dan J. J Pestalozzi. Sedangkan tokoh-tokoh pendidikan abad 19 hingga awal abad 20 diantaranya adalah Herbart, Frobel, Montessori, John Dewey dan dari pemikir-pemikir tersebut maka ilmu pendidikan terus berkembang hingga saat ini. Ilmu pendidikan atau Paedagogiek adalah teori pendidikan perenungan tentang pendidikan dalam arti yang luas. Ilmu pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari soal-soal yang timbul dalam praktik pendidikan Brojonegoro, 1986. Ilmu pendidikan telah berkembang dan memenuhi persyaratan sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri. Ilmu pengetahuan dapat berdiri sendiri apabila telah memenuhi persyaratan yaitu 1 memiliki objek sendiri, 2 methode penyelidikan, 3 sistematika, dan 4 tijuan sendiri. Objek Ilmu Pendidikan Ilmu pendidikan memiliki objek yang menjadi lapangan penyelidikannya yang terdiri dari objek forma dan objek materi. Objek forma adalah lapangan atau bahan penyelidikan suatu ilmu, sedangkan objek materi adalah sudut tinjauan dari suatu ilmu. Objek materi dari ilmu pendidikan adalah manusia,sedang objek formanya adalah kegiatan manusia membimbing perkembangan manusia untuk mencapai tujuan tertentu. Ilmu pendidikan dimungkinkan memiliki objek materi yang sama dengan ilmu pengetahuan lainnya namun berbeda dalam objek formanya. Dari objek forma inilah ditemukan permasalahan pendidikan, yang menjadi bahasan suatu ilmu yang disebut ilmu pendidikan. Metode Penelitian Ilmu Pendidikan Ilmu pendidikan sebagai ilmu pengetahuan memiliki metode penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Metode tersebut mencakup metode untuk mengumpulkan data maupun metode untuk mengolah data. Metode pengumpulan data dapat dilakukan melalui observasi, tes, interview, angket dan lain-lain. Metode untuk menganalisis data dapat menggunakan data analisis statistik maupun non statistik. Metode berfikir yang digunakan menganalisis dapat menggunakan metode induktif ataupun deduktif. Sistematik dalam ilmu pendidikan Sistem adalah susunan persoalan-persoalan yang teratur, sehingga merupakan suatu kesatuan yang organis, sehingga antara satu dengan lainnya saling berhubungan dan tidak dapat terpisahkan. Ilmu pendidikan memiliki persoalan-persoalan yang terssusun secara sistematis sehingga merupakan suatu kesatuan yang saling terkait. Terdapat berbagai variasi dalam komponen sistem pendidikan, namun ada beberapa hal yang selalu ada dalam sistem tersebut adalah 1 tujuan pendidikan, 2 pendidik, 3 peserta didik, 4interaksi pendidikan, dan5 lingkungan pendidikan. Tujuan Ilmu Pendidikan Dalam pengembangan ilmu pendidikan memiliki dua tujuan yang ingin dicapai yaitu untuk pengembangan suatu ilmu, yang berorientasi pada kebenaran suatu ilmu itu sendiri. Dengan cara ini akan menghasilkan ilmu teoritis murni yang tidak menghiraukan kegunaannya dalam praktik. Di samping tujuan tersebut ilmu pendidikan mengembangkan ilmu yang selanjutnya dapat digunakan dalam praktik pendidikan sehari-hari. Hal yang demikian ini sering disebut dengan ilmu bersifat praktis. Artinya teori yang ditemukan harus berorientasi pada praktik, atau dapat dipraktikan.
Materi Pokok Mata Kuliah Ilmu Pendidikan 1. Pengertian Pendidikan 2. Tujuan Ilmu Pendidikan 3. Obyek ilmu pedidikan 4. Faktor-faktor pendidikan 5. Aliran-aliran pendididkan 6. Tripusat pendidikan BAGIAN I PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN Pendidikan Sebelumnya marilah kita pahami dahulu istilah ilmu pendidikan Paedagogiek dan pendidikan Paedagogie. Istilah diatas sebetulnya mempunyai makna yang berlainan Ilmu pendidikan mempunyai makna sama dengan istilah paedagogiek, sedangkan pendidikan sama dengan istilah paedagogie. Lalu apakah perbedaannya ? Menurut Ahmadi dan Dra. Nur Uhbiyati 199168 Ilmu pendidikan paedagogiek lebih menitik beratkan kepada pemikiran perenungan tentang pendidikan. Pemikiran bagaimana sebaiknya a. System pendidikan b. Tujuan Pendidikan c. Materi pendidikan d. Sarana dan prasarana e. Cara penilaian f. Cara penerimaan siswa/guru yang bagaiman Jadi ilmu pendidikan lebih menitikberatkan pada teori. Menurut Purwanto,MP. 19953 Pedagogik atau ilmu pendidikan ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki, merenungkan tentang gejala-gejala perbuatan mendidik.Perbuatan dalam praktek Paedagogik berasal dari kata yunani paedagogia yang berarti “pergaulan dengan anak-anak “.Paedagogos ialah seorang pelayan atau bujang pada zaman Yunani kuno yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak ke dan dari sekolah. Juga dirumahnya, anak-anak tersebut selalu dalam pengawasan dan penjagaan dari para paedagogos itu. Jadi, nyatalah bahwa pendidikan anak-anak Yunani kuno sebagian besar di serahkan kepada paedagogos itu. Paedagogos berasal dari kata paedos anak dan agoge saya membibing, memimpin. Perkataan paedagogos yang mulanya berarti “rendah” pelayan, bujang, sekarang dipakai untuk pekerjaan yang mulai. Paedagogo pendidik atau ahli didik ialah seseorang yang tugasnya membibing anak dalam pertumbuhannya agar dapat berdiri sendiri. Sedangkan Pengertian pendidikan Paedagogie berasal dari bahasa Yunani terdiri dari kata “PAIS”, artinya anak, dan “AGAIN” diterjermahkan membimbing , jadi paedagogie yaitu bimbingan yang diberikan kepada anak. Menurut John dewey dalam Ahmadi dan Dra. Nur Uhbiyati 199169 Pendidikan adalah proses pembentukkan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia. Menurut SA. Bratanata dkk dalam Ahmadi dan Dra. Nur Uhbiyati 199169 pendidkan adalah usaha yang sengaja diadakan baik secara langsung maupun dengan cara yang tidak langsung untuk membantu anak dalam perkembangannya mencapai kedewasaannya. Menurut Purwanto,MP 199511 Pendidikan ialah segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya kearah kedewasaan. Menurut GBHN Pendidikan usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan didalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Dari rumusan Pengertian diatas nyatalah bahwa pendidikan yang sebenarnya berlaku dalam alam pergaulan antara orang dewasa dan anak-anak. Pergaulan antara orang dewasa dan orang dewasa atau pergaulan antara anak-anak dan anak-anak tidak dapat dinamakan pergaulan pendidikan paedagogis.Tetapi kita juga harus ingat tidak tiap-tiap pergaulan antara orang dewasa dan anak bersifat pendidikan . Contoh orang tua menyuruh mengambil kaca mata bukan karena bermaksud mendidik, melainkan karena ia sendiri enggan mengambil. Satu-satunya pengaruh yang dapat dinamakan pendidikan ialah pengaruh yang menuju kedewasaan anak untuk menolong anak menjadi orang yang kelak dapat dan sanggup memenuhi tugas hidupnya atas tanggung jawab sendiri. Pendidik harus orang yang sudah dewasa Telah dinyatakan dengan tegas bahwa hal mendidik terdapat dalam pergaulan / hubungan antara orang dewasa dan anak. Dalam hal ini ada dua ketentuan 1. Si pendidik harus orang yang sudah dewasa sendiri, 2. Si terdidik harus orang yang belum dewasa, jadi terbatas pada anak-anak saja. Mengapa demikian ? Dalam hal ini kita harus ingat kepada tujuan pendidikan . , Dikatakan bahwa mendidik adalah memim pin anak kearah kedewasaan. Jadi, yang kita tuju dengan pendidikan kita ialah kedewasaan sianak. Tidaklah mungkin pendidik membawa anak-anak kepada kedewasaannya jika pendidik sendiri tidak dewasa. Membawa anak kepada kedewasaannya bukan hanya dengan nasihat-nasihat, perintah-perintah, anjuran-anjuran dan larangan-larangan saja, melainkan yang pertama-tama ialah dengan gambaran kedewasaan yang senantiasa dapat dibayangkan oleh anak dalam diri pendidiknya, didalam pergaulan mereka antara pendidik dan anak didik. Pengertian Dewasa Menurut Ahmadi dan Dra. Nur Uhbiyati 1991 14 arti kedewasaan kadang – kadang dibedakan menjadi kedewasaan jasmani dan kedewasaan rohani. Jika segala kedewasaan kita tinjau, maka tampaklah cirri – cirinya, yaitu sifat tetap dan sifat teratur dan statis jika dibandingkan dengan dinamika pada anak-anak yang selalu menghendaki dan mengalami perubahan. Sebenarnya pada orang dewasa ada pula gejala-gejala yang dinamis tetapi arti yang tidak plastis dinamika pada orang dewasa selalu tampak suatu garis hidup yang tetap dan tegas ada rencana dan tujuan yang dewasa sudah tidak suka lagi bermain-main seperti anak. Anak belum mempunyi kedudukan yang tetap dalam kehidupan masyarakat dan masih memerlukan perlindu ngan. Orang dewasa itu benar-benar mengetahui siapa dirinya dan apa yang diperbuat,baikkah atau burukkah itu. Jadi, menjadi dewasa dan kedewasaan itu mempunyai arti kesusilaan juga. Ia mau mempertanggungjawabkan keadaannya dan segala perbuatannya. Ia secara moral telah menyesuaikan diri dengan norma-norma kesusilaan. Perbandingan antara gejala – gejala keajala keanakan dan gejala kedewasaan sebagai berikut Anak-anak Dewasa . Mencari bentuk . Tak mempunyai ketetapan . Tak ada kemerdekaan . Kelihatan mudah berubah . Lemah . Memerlukakepan bantuan .Sangat mudah terpengaruh belum mempunyai keyakinan yang tetap . Menampakkan diri sebagai bentuk . Beranggapan mempunyai bentuk . Merdeka . Tetap, stabil . Kuat . Membantu . Tahu mengambil dan menentukan jalan tidak bergantung kepada orang lain Pentingnya pendidikan dan ilmu pendidikan Kata pendidik bagi awam langsung mengkaitkan dengan masalah sekolah dalam arti pertemuan guru dan murid. Seh ingga orangtua merasa berkewajiban untuk mendidik anaknya baik secara langsung maupun tidak langsung lewat persekolahan. Mengapa pendidikan itu penting ? a. Segi anak Anak adalah makhluk yang sedang tumbuh. Oleh karena itu pendidikan penting sekali karena mulai sejak bayi belum dapat berbuat sesuatu untuk kepentingan dirinya, baik untuk mempertahankan hidup maupun merawat diri , semua kebutuhan tergantung orang tua. Bandingkan dengan anak binatang, misalnya anak ayam dalam waktu yang relative sing Kat si anak ayam sudah mampu untuk jalan dan makan sendiri, tidak demikian halnya dengan anak manusia. Oleh sebab itu anak/bayi manusia memerlukan bantuan, tutunan, pelayanan, dorongan dari orang lain demi mempertahankan hidup dengan mendalami belajar setahap demi setahap untuk memperoleh kepandaian, ketrampilan, dan pembentukkan sikap dan tingkah laku sehingga lambat laun dapat berdiri sendiri yang memerlukan waktu yang cukup lama. b. Segi orangtua Pendidikan adalah karena dorongan orangtua yaitu hati nuraninya yang terdalam mempunyai sifat kodrati untuk mendidik anaknya baik dalam segi , sosial, emosi dan inteligensinya agar memperoleh keselamatan , kepandaian agar mendapat kebahagian hidup yang mereka idam-idamkan, sehingga ada tanggungjawab moral atas hadirnya anak yang diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa untuk dapat dipelihara dan dididik dengan sebaik-baiknya. Menurut Brojonagoro dalam Abu Ahmadi dan Uhbiyati 199175 pendidikan dapat dimulai lebih awal lagi, bahkan ketika calon suami istri. Dalam hal ini orangtua zaman dahulu sangat hati-hati. Mereka berpegang teguh pada ajaran “bibit, bebet, Bobot”. Mengenai kemungkinan – kemungkinan pendidikan ini, ada beberapa pendapat, antara lain 1. Aliran naturalism kodrat berpendapat bahwa pendidikan itu tidak perlu, sebab perkembangan anak itu tergantung dari kodrat yang dibawanya/dimilikinya sejak ia belum dilahirkan. Pendapat ini selaras dengan aliran nativisme pembawaan. Menurut aliran ini bayi yang lahir telah membawa sifat-sifat dari orangtuanya. Sehingga pendidikan bagi anak itu rasanya tidak mungkin berhasil. 2. Aliran empirisme Pengalaman berpendapat bahwa anak yang baru lahir seperti kertas putih bersih. Jadi pendidikan maha kuasa . Orang dapat menuliskan apapun pada kertas itu. Pendidikaan dapat membentuk anak sesuai dengan seleranya. 3. Aliran convergensi berpendapat bahwa kodrat /pembawa maupun pengalaman lingkungan , kedua-duanya merupakan kesatuan mutlak didalam perkembangan anak didik. Jadi pendidikan itu tidak maha kuasa, juga tergantung dari kodrat atau pembawaan anak didik. Pentingnya Mempelajari ilmu Pendidikan a. Untuk pengembangan individu Manusia sebagai makhluk berbudaya dapat mengembangkan dirinya sedemikian rupa sehingga mampu membentuk norma dan tatanan kehidupan yang didasari oleh nilai-nilai luhur untuk kesejahteraan hidup baik perseorangan bersama. Berkembangnya kehidupan manusia sebagai makhluk budaya setidaknya disebabkan oleh – Adanya kemampuan-kemampuan atau potensi dasar yang ada pada manusia seperti intelek, imajinasi, sikap, kehendak dan dorongan. – Adanya usaha pengembangan potensi manusia tersebut sehingga berujud kemampuan yang nyata dan adanya usaha penyerahan nilai atau norma tersebutyang sudah dimiliki oleh kehidupan manusia dari generasi ke generasi berikutnya. – pendidik pada umumnya Dengan memahami pendidikan pendidik dapat – – Memudahkan praktek pendidikan Dengan bekal ilmu pendidikan kegiatan pendidikan dapat direncanakan secara secara teratur dan sistematis – Dapat menimbulkan rasa kecintaan pada diri pendidik terhadap tugasnya, terhadap anak didik dan terhadap kebenaran – Dapat menghindari banyak kesukaran dan kesalahan dalam melaksanakan praktek pendidikan – Kesalahan yang mungkin dibuat dalam mendidik diantaranya 1. Cara mendidik terlalu keras dapat menimbulkan rasa harga diri kurang, sebaliknya yang terlalu lunak berarti memanjakan anak 2. Cara mendidik yang tidak memberi kesempatan untuk berkembang berarti menghambat pertumbuhan 3. Kesalahan menekankan tujuan pendidikan yang di inginkan . Misalkan terlalu menekankan pada intelek menjadi intelektualistis dan terlalu menekankan segi individu menjadi individualistis. c. Dari segi pembangunan Seperti telah kita ketahui dari GBHN tentang dasar dan tujuan pendidikan nasional “Pendidikan nasional berdasarkan atas pancasila dan bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, ketrampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta, bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. 1. PENGERTIAN PENDIDIKAN ILMU PENDIDIKAN paedagogik adalah pemikiran bagaimana sebaiknya system pendidikan,tujuan pendidikan,materi pendidikan,sarana dan prasarana pendidikan,cara penilaian,cara penerimaan siswa,guru. Penddikan paedagogie yaitu menyangkut kegiatan belajar mengajar Menurut Ki Hajar Dewantara mendidik adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan kebahagian yang setinggi-tingginya. Kesimpulan menurut penulis pendidikan pada hakekatnya suatu kegiatan yang secara sadar dan disengaja,serta penuh tanggungjawab yang dilakukan oleh orang dewasa kepada anak sehingga timbul interaksi dari keduanya agar anak tersebut mencapai kedewasaan yang dicita-citakan dan berlangsung terus menerus. Definisi Pendidikan Islam Pendidikan islam ialah suatu aktifitas/usaha pendidikan terhadap anak didik menuju kea rah terbentuknya kepribadian muslim yang muttaqiem. Kepribadian muslim adalah kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama islam,memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai islam dan bertanggungjawab sesuai nilai-nilai islam Menurut Kepribadian Muslim ialah kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya yakni tingkah laku luarnya,kegiatan jiwanya,maupun filsafat hidup dan kepercayaannya menunjukkan pengabdian kepada Tuhan,penyerahan dirinya kepada-Nya Muttaqiem adalah orang-orang yang bertakwa kepada yang maha pencipta,yaitu Allah swt,sedang takwa artinya mentaati/melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala yang dilarang-Nya,beramar ma’ruf nahi mungkar Takwa adalah sesuatu yang di perintahkan Allah bagi orang-orang yang beriman sebagaimana di firmankan oleh Allah yang artinya “Hai orang-orang yang beriman,bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya,dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan islam Tujuan pendidikan Islam harus selaras dengan tujuan diciptakan manusia oleh Allah SWT yaitu menjadi hamba Allah dengan kepribadian muttaqiem yang di perintahkan oleh Allah ,karena hamba yang paling mulia di sisi Allah adalah hamba yang paling takwa PENDIDIKAN DAN ILMU PENDIDIKAN A. Pentingnya Pendidikan Kata pendidik bagi awam atau pembaca umumnya langsung mengkaitkan dengan masalah sekolah dalam arti pertemuan guru dan orang tua merasa berkewajiban untuk mendidik anaknya baik secara langsung maupun tidak langsung lewat persekolahan. Mengapa pendidikan penting? 1. Segi anak Anak adalah makhluk yang sedang tumbuh, berbuat sesuatu untuk kepentingan dirinya,baik untuk mempertahankan hidup maupun merawat diri,semua kebutuhan tergantung ibu/orangtua. Bandingkan saja dengan anak ayam,misalnya dalam waktu yang relative singkat mampu jalan dan makan sendiri,tidak demikian halnya dengan anak manusia. Anak manusia memerlukan bantuan ,pelayanan,dorongan dari orang lain demi mempertahankan hidup dengan mendalami belajar setahap demi setahap untuk memperoleh kepandaian,ketrampilan dan pembentukkan sikap dan tingkah laku sehingga lambat laun dapat berdiri sendiri yang kesemuanya memerlukan waktu yang cukup lama. 2. Segi Orangtua Pendidikan adalah karena dorongan orangtua yaitu hati nurani yang terdalam yang mempunyai sifat kodrati untuk mendidik anaknya baik dalam segi fisik,sosial,emosi maupun intelejensinya agar memperoleh keselamatan, kepandaian agar mendapat kebahagian hidup yang mereka idamkan , sehingga ada tanggung jawab moral atas hadirnya anak yang di berikan Tuhan Yang Maha Kuasa untuk di pelihara dan di didik dengan sebaik-baiknya. B. Pentingnya mempelajari Ilmu Pendidikan 1. Untuk Pengembangan Individu Manusia sebagai makhluk berbudaya dapat mengembangkan dirinya sehingga mampu membentuk norma dan tatanan kehidupan yang di dasari oleh nilai-nilai luhur untuk kesejahteraan hidup, baik perseorangan maupun untuk kehidupan bersama. 2. Bagi Pendidik pada umumnya a. Memudahkan praktek pendidikan Dengan bekal ilmu pendidikan kegiatan pendidikan dapat di rencanakan secara teratur dan systematis teratur dan sehingga praktek pendidikan dapat sistematis menuju ketujuan yang telah ditetapkan. b. Dapat menimbulkan rasa kecintaan pada diri pendidik terhadap tugasnya, terhadap anak didik dan terhadap kebenarannya. Karenanya pendidikan akan selalu berusaha mempelajari dirinya. c. Dapat Menghindari banyak kesukaran dan kesalahan dalam melaksanakan praktek pendidikan Kesalahan yang mungkin di buat dalam mendidik diantaranya – Cara mendidik yang terlalu keras dapat menimbulkan rasa harga diri berkurang. Sebaliknya yang terlalu lunak memanjakan anak. – Cara mendidik yang tidak memberi kesempatan untuk berkembang berarti menghambat pertumbuhan. – Kesalahan menekankan tujuan pendidikan yang diinginkan. Misalnya pembentukkan intelek menjadi intelektualistis dan terlalu menekankan segi individu menjadi individualistis 3. Dari Segi Pembangunan Dapat di ketahui dari GBHN tentang dasar dan tujuan pendidikan nasional yaitu Pancasila yang bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan terhadap TYME, Kecerdasan, Ketrampilan ,mempertinggi budi pekerti,memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri,serta bersama-sama bertanggungjawab atas pembangunan bangsa UNSUR-UNSUR PENDIDIKAN 1. KOMUNIKASI Diartikan adanya interaksi hubungan timbal balik dari anak dengan orangtua atau pendidik atau dari orang yang belum dewasa kepada orang yang sudah dewasa dan sebaliknya 2. KESENGAJAAN Komunikasi yang terjadi merupakan suatu proses kesengajaan perbuatan yang di sadari oleh orang dewasa demi anak/peserta didik 3. KEWIBAWAAN Perbuatan orang dewasa hendaknya ada unsur wibawa dalam arti secara sadar atau tidak anak yang belum dewasa tadi patuh akan hasil didikan orang dewasa. Kewibawaan adalah pengaruh yang diterima dengan sukarela yang di miliki oleh orang dewasa. Di dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal ada dua macam kewibawaan yaitu pemimpin/kepala Seperti kewibawaan pemimpin organisasi,baik organisasi politik atau organisasi massa,kewibawaan kepala kantor atau kepala sekolah B. Kewibawaan Keistimewaan Seperti kewibawaan seseorang yang mempunyai kelebihan atau keunggulan di bidang tertentu di antaranya a. Kelebihan dibidang ilmu pengetahuan,baik umum maupun agama b. Kelebihan di bidang pengalaman,baik dalam kehidupan maupun pekerjaan c. Kelebihan di bidang kepribadian,bidang akhlak maupun sosial d. Kelebihan di bidang harta e. Kelebihan di bidang keturunan yang mewarisi karisma leluhurnya 4. Normatif Yaitu adanya komunikasi di batasi adanya ketentuan suatu norma baik adat,agama,sosial,dan atau norma pendidikan formal. 5. Unsur Anak Perlu di perhatikan keadaan anak yang akan menerima pelayanan pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangannya dan mengenali anak sebaik-baiknya. 6. Unsur kedewasaan/tujuan Perlu di pelajari arti kedewasaan baik secara phisik maupun psikis sesuai dengan norma-norma yang berlaku. JENIS-JENIS PENDIDIKAN 1. Menurut tingkat dan system persekolahan – Tingkat pra sekolah – Tingkat sekolah dasar – Tingkat sekolah menengah – Tingkat sekolah menengah atas – Tingkak perguruan tinggi 2. Menurut tempat berlangsungnya pendidikan Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan di bedakan menjadi 3 dan disebut tri pusat pendidikan a. Pendidikan didalam keluarga b. Pendidikan didalam sekolah c. Pendidikan di dalam masyarakat 3. Menurut cara berlangsungnya pendidikan Di bedakan antara pendidikan fungsional dan pendidikan intensional Pendidikan fungsional yaitu pendidikan yang berlangsung secara naluriah tanpa rencana dan tujuan tetapi berlangsung begitu saja Pendidikan intensional yaitu lawan dari pendidikan fungsional yaitu program dan tujuan sudah di rencanakan. 4. Menurut aspek pribadi yang di sentuh/tidak menyentuh seluruh dari kepribadian anak didik kita kenal pendidikan ORKES,pendidikan sosial,pendidikan bahasa,pendidikan kesenian,pendidikan moral,pendidikan sex dan lain-lain 5. Menurut sifatnya pendidikan a. Pendidikan informal yaitu pendidikan yang di peroleh seseorang dari pengalaman sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar sepanjang ini dapat berlangsung dalam keluarga dalam pergaulan sehari-hari maupun dalam pekerjaan,masyarakat,keluarga,organisasi b. Pendidikan formal,yaitu pendidikan yang berlangsung secara teratur,bertingkat dan mengikuti syarat-syarat tertentu secara ini berlangsung di sekolah c. Pendidikan Non formal yaitu pendidikan yang di laksanakan secara tertentu dan sadar tetapi tidak terlalu mengikuti peraturan yang ketat. 2.
Home Kampus Kamis, 20 Mei 2021 - 1332 WIBloading... Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Dirjen Diksi Kemendikbud Wikan Sakarinto. Foto/Dok/Humas Kemendikbud A A A JAKARTA - Bagi para lulusan SMA dan sederajat masa mencari kuliah merupakan masa yang menentukan karena harus memilih kampus mana dan juga jurusan apa yang ingin dipelajari nantinya. Perlu calon mahasiswa ketahui, pada jenjang pendidikan tinggi di Indonesia sendiri ada beberapa jenis pendidikan yang dari instagram Direktorat Dikti Vokasi dan Profesi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi di diktivokasi, Kamis 20/5, dijelaskan berdasarkan UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional ada 3 jenis pendidikan. Baca Juga UU No 20/2003 itu menyebut, 3 jenis pendidikan yang berlaku di tanah air itu adalah Pendidikan Akademik, Pendidikan Vokasi dan Pendidikan apa perbedaan antara ketiganya? Simak lebih jauh penjelasan dibawah Pendidikan Akademik merupakan sistem pendidikan yang mengarah pada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan, teknologi dan seni memilih Pendidikan Akademik maka mahasiswa akan lebih banyak mendapatkan teori dibanding praktik. Perbandingan teori dan praktiknya sekitar 6040. Nantinya ketika lulus dari Pendidikan Akademik, mahasiswa juga akan mendapatkan gelar sarjana yang diikuti oleh bidang keahlian yang dipilih mahasiswa. Baca Juga Pendidikan Akademik mencakup program- Pendidikan Sarjana S1- Magister/Master S2- Doktor S3Jika kamu memilih bidang ekonomi, ketika lulus dari kampus nanti akan mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi SE. Begitu pula jika memilih bidang hukum, teknik dan masih banyak Pendidikan Vokasi adalah pendidikan yang mengacu kepada penguasaan keahlian terapan tertentu. Dengan demikian pendidikan terapan yang akan didapatkan akan lebih banyak kepada praktik dibandingkan Vokasi merupakan kebalikannya dari Pendidikan Akademik. Praktik dan teorinya berbanding 60 Vokasi mencakup program pendidikan Diploma I D1, Diploma II D2, Diploma III D3 dan Diploma IV 4.Setelah mahasiswa lulus akan mendapatkan gelar vokasi, seperti- Ahli Pratama Ahli Muda Ahli Madya Sarjana Terapan Baca Juga 3. Pendidikan Profesi merupakan lanjutan dari pendidikan akademik ketika sudah mendapatkan gelar Sarjana S1.Pendidikan Profesi dipersiapkan untuk peserta didik agar memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus dan juga mendapatkan gelar profesi/keahlian Indonesia, gelar profesi diatur oleh senat perguruan tinggi dan organisasi profesi berdasarkan standar profesi yang terkait dan ditulis dibelakang nama yang profesi yang sudah ada di Indonesia, antara lain- Akuntan Ak.- Konsultan Pajak Apoteker Apt.- Dokter dr- Dokter gigi drg.- Dokter hewan drh.- Perawat Ners.- Psikologi Psi.- Insinyur Ir.- Guru Gr. mpw pendidikan vokasi pendidikan profesi pendidikan akademik kemendikbud ristek guru Baca Berita Terkait Lainnya Berita Terkini More 12 menit yang lalu 34 menit yang lalu 1 jam yang lalu 1 jam yang lalu 3 jam yang lalu 3 jam yang lalu
Oleh Rahmat Hidayat Zakaria* “The arrival in the soul of the meaning of a thing, or the arrival of the soul at the meaning of a thing Syed Muhammad Naquib al-Attas” Semua orang berhak untuk menuntut ilmu, laki-laki ataupun perempuan. Namun dengan demikian, semua bidang keilmuwan tidak serta merta harus dikuasai dan dipelajari, karena umur manusia sangat terbatas. Sementara kuantitas ilmu itu sendiri sangat luas unlimited. Disebabkan oleh pentingnya ilmu itulah, Allah SWT menyebutkan kata ilmu di dalam al-Qur’an, dengan pelbagai bentuknya, sebanyak 854 kali. Kata ini digunakan dalam arti proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan. Kata ilm dari segi bahasa artinya kejelasan. Oleh karenanya, segala yang terbentuk dari akar kata ilmu mempunyai ciri kejelasan. Karena ilmu adalah pengetahuan yang jelas tentang sesuatu M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, 2000, 434. Semua ilmu datangnya dari Allah SWT. Ilmu tersebut ditafsirkan oleh jiwa melalui fakultas-fakultas ruhaniyah dan jasmaniyah. Maka daripada itu, ilmu hendaknya difahami secara serius. Jika tidak, kesalahan dalam memahami ilmu mengakibatkan fatal dan berpotensi menghasilkan usaha yang sia-sia, bahkan merugikan dan merusak ilmu itu sendiri. Karena ilmu yang didapatkan tidak meresap ke dalam jiwa, sehingga ia disalahgunakan dan hasilnya pun jauh dari realita kebenaran yang ada Wan Mohd Nor Wan Daud, Budaya Ilmu, 2007, 30. Namun, di zaman modern ini, arti ilmu telah disempitkan. Ia dibatasi pada aspek pengetahuan maklumat dan skill kemahiran saja. Dalam perspektif Barat misalnya, ilmu merujuk kepada suatu pengenalan atau persepsi yang jelas tentang fakta Budaya Ilmu, 30. Fakta yang dimaksud adalah segala sesuatu yang dapat dilihat dan ditangkap melalui panca indera atau sisi zahir luaran saja yang bersifat empiris. Jadi, dalam pandangan Barat, eksistensi segala sesuatu di luar panca indera tidak disebut sebagai ilmu. Manusia yang hidup sekarang, sebagian besar dari mareka terpengaruh oleh worldview pandangan hidup Barat sekuler. Dengan terpengaruhnya mereka dari worldview Barat tersebut, mengakibatkan banyak kezaliman dalam kehidupan manusia dan alam. Manusia saat ini, sebenarnya mereka mengetahui banyak hal, terutama dalam perkara yang berkaitan dengan tubuh manusia jasad insani dan sisi zahiriyah lainnya. Islam memahami ilmu bukan hanya sekedar melihat dari aspek fisikal luaran saja. Tetapi, di dalam Islam yang terpenting juga adalah perkara-perkara kerohanian keagamaan dan akhlaq. Kedua aspek tersebut tidak boleh dikesampingkan, karena ia mencakup aspek keTuhanan, Malaikat, ruh, diri manusia yang tidak dapat diketahui hakikatnya kecuali melalui otoritas manusia pilihan. Otoritas manusia pilihan yang dimaksud adalah ilmu yang didapati melalui para Rasul, Nabi dan orang-orang yang dikehendaki Allah SWT ibid., 31. Sebagaimana diketahui bersama, Islam telah memimpin dunia selama 1000 tahun lebih dengan pelbagai pemerintahannya. Dimulai dari al-Khulafa’ al-Rasyidin 632 – 661 M, Umayyah 661 – 750 M, Andalusia/Eropa 711 – 1492 M, Abbasiyah 750 – 1258 M dan yang terakhir Uthmaniyah 1299 – 1924 M. Apa yang membuat Islam berjaya begitu lama? Ia disebabkan oleh faktor ilmu. Ilmu yang membuat peradaban Islam mampu berjaya mewarnai dunia Timur dan Barat. Jejak kejayaan yang ditinggalkan oleh Islam pun bukan dalam bentuk fisik seperti bangunan-bangunan tinggi dan candi-candi yang megah, akan tetapi dalam bentuk ilmu. Sebab, kemegahan bangunan dan candi-candi yang bersifat kebendaan suatu saat akan musnah seiring dengan berjalannya waktu. Hakikat Ilmu Dalam Islam Ilmu dalam Islam mempunyai dua jenis [1] Ilmu yang diberikan oleh Allah SWT yaitu al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan pembimbing dan penyelamat manusia. Tidak ada ilmu selainnya kecuali bersumber darinya dan merujuk kepadanya. Jenis ilmu pada bagian ini bersifat kebenaran mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. [2] Ilmu-ilmu sains ulum. Ilmu-ilmu sains ini dapat dicapai melalui pengalaman, pengamatan dan penelitian. Jenis ilmu yang kedua ini adalah merujuk kepada ilmu yang berkaitan dengan data, yang dapat ditangkap oleh panca indera dan difahami oleh akal sehingga ia dapat dipelajari untuk digunakan dan difahami oleh manusia. Di samping itu juga, jenis ilmu ini bersifat diskursif, deduktif dan berkaitan dengan perkara yang bersifat pragmatis SMN al-Attas, Islam and Secularism, 1993, 144-7. Jadi ilmu yang pertama ini adalah pembimbing bagi ilmu yang kedua. Jika tidak, ilmu yang kedua ini akan membingungkan dan mengaburkan manusia baik dari aspek pencarian mereka terhadap tujuan maupun makna kehidupan. Perbincangan mengenai ilmu tentunya tidak dapat dipisahkan dari pendidikan. Sebab, pendidikan merupakan sarana untuk mencapai ilmu itu sendiri. Proses pendidikan ini berlaku pada manusia biasa. Kecuali para utusan-utasan Allah SWT Nabi maupun ilmu-ilmu yang Allah berikan kepada orang-orang tertentu yang Dia kehendaki yang tidak ditempuh melalui jalur pendidikan atau disebut dengan ilmu laduni. Di dunia Barat, pendidikan dikenal sebagai education. Kata tersebut berasal dari bahasa Latin, yaitu educere atau bahasa Inggrisnya educe. Educe artinya mengaktualisasikan dan mengembangkan potensi diri. Sifat “mengaktualisasikan dan mengembangkan” merupakan sebuah proses yang merujuk kepada aspek fisikal dan materi belaka. Jadi, menurut penulis, sifat “mengaktualisasikan dan mengembangkan potensi diri” lebih bermakna sebagai skill. Padahal kenyataannya skill berbeda dengan ilmu. Oleh karena itu, konsep pendidikan yang telah dikembangkan dari bahasa Latin tersebut, sebenarnya dialamatkan kepada jenis hewan, bukan kepada manusia the referents in the conception of education derived form the Latin concepts encompass the animal species, and are not restricted only to rational animals’, lihat SMN Al-Attas, The Concept of Education in Islam, 1999, 27-8. Padahal, Education pendidikan sebagaimana ditegaskan oleh Al-Attas adalah sebuah proses penanaman sesuatu ke dalam diri manusia a process of instilling something into human beings. Jadi, proses penanaman sesuatu hanya berlaku kepada manusia dalam hal ini adalah pendidikan, bukan hewan Ibid., 13. Tujuan Menuntut Ilmu dalam Perspektif Islam dan Barat Tujuan menuntut ilmu di dalam Islam ialah untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan ke dalam diri seseorang dan kepribadiannya. Dengan demikian, hasil dari penanaman kebaikan tersebut sangat berpengaruh dalam membentuk jiwa psikologis. Sehingga tujuan akhir dari menuntut ilmu adalah untuk menghasilkan manusia yang baik to produce a good man. Adapun dalam perspektif Barat, tujuan menuntut ilmu ialah untuk menghasilkan warga negara yang baik to produce a good citizen. Dari sini dapat diketahui bahwa menghasilkan warga negara yang baik, berarti sama juga dengan menghasilkan rakyat yang baik. Baik untuk sistem pemerintahan demokrasi, oligarki, maupun monarki. Setelah mengamati kedua perspektif di atas, tentu keduanya mempunyai perbedaan yang sangat jelas. Kata good man’ yang terdapat pada konsep Islam, sebenarnya sudah mencakup aspek kehidupan spiritual dan material manusia secara bersamaan The Concept of Education In Islam, 22. Sementara kata good citizen’ yang terdapat pada konsep Barat, sebenarnya berlaku pada aspek fisikal luaran atau material saja. Jadi ilmu yang sangat ditekankan oleh Barat adalah merujuk kepada aspek material saja, mereka menafikan aspek dalaman kerohanian ataupun keagamaan. Berkenaan dengan kedua tujuan di atas, Wan Mohd Nor Wan Daud menjelaskan, “Hal terpenting yang ditanamkan dalam menuntut ilmu adalah nilai kebaikan dan keadilan dalam diri manusia berdasarkan individu, bukan berdasarkan warga negara ataupun anggota masyarakat. Dan yang perlu ditekankan dalam pendidikan juga adalah nilai manusianya sebagai manusia yang sejati, sebagai warga negara dan sesuatu yang bersifat spiritual. Bukan pada nilai manusia sebagai entitas fisikal yang diukur dalam konteks pragmatis dan bermanfaat untuk negara, masyarakat maupun dunia” Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and Practice of Syed M. Naquib Al-Attas,1998,131. Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa warga negara yang baik good citizen tentunya tidak sama dengan manusia yang baik good man. Karena warga negara yang baik, belum tentu ia baik terhadap dirinya spiritual. Sebab boleh jadi, ilmu yang didapatkannya pun tidak melekat ke dalam dirinya sehingga membuat ilmu tersebut dapat disalahgunakan dan dikaburkan kepada sesuatu yang negatif bagi manusia maupun alam. Akan tetapi, manusia yang baik good man sudah pasti ia mencakup keduanya, menjadi warga negara yang baik dan baik juga terhadap dirinya. Wallahu a’lam bishshawab * Kandidat Master di Center for Advanced Studies on Islam, Science and Civilization, Universiti Teknologi Malaysia CASIS-UTM
perbedaan ilmu dan pendidikan